Gara-Gara Van Bommel, AC Milan Tega Membuang Andrea Pirlo

Meski dirinya sudah lama menyudahi karirnya sebagai pesepakbola, Andrea pirlo akan tetap jadi regista terbaik yang pernah lahir ke dunia. Bagaimana tidak? Setelah dirinya, ada banyak pemain yang berusaha menyamai Pirlo. Namun, tak ada satu pun yang bisa menyamai level permainannya.

Di mana pun ia bermain, Pirlo tak tergantikan. Tak terkecuali di AC Milan. Di klub itulah kita mengenal siapa Pirlo sebenarnya. Visi bermain dan kualitas umpannya sulit untuk diimbangi oleh siapa pun kala itu. Namun, ada satu pemain yang berhasil menggusur tahta Pirlo di lini tengah Milan. Dia adalah Mark Van Bommel.

Meski sudah tak muda lagi, Van Bommel justru membuat Pirlo gabut karena jarang dimainkan. Agak terdengar aneh bukan? Tapi situasi ini memang benar terjadi. Lantas bagaimana caranya? Sebagus apa Van Bommel ini? Berikut adalah kisah saat Van Bommel memaksa Milan untuk menyingkirkan Andrea Pirlo

Van Bommel

Sebelum bercerita bagaimana Mark Van Bommel “menendang” keluar Andrea Pirlo dari skuad AC Milan, kita melempar ingatan terlebih dahulu untuk mengenang siapa sebenarnya Van Bommel ini. Pada tahun 1977, tangisan pertama Van Bommel terdengar di Maasbracht, sebuah kota kecil yang terletak di daerah paling selatan Belanda. 

Saking terpencilnya, keluarga Van Bommel lebih dekat ke Belgia ketimbang harus melakukan perjalanan jauh untuk ke pusat kota. Lahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai pengurus harian klub amatir bernama RKVV Maasbracht, tentu saja Mark bergabung dengan klub tersebut untuk mengasah kemampuan sepak bolanya.

Perjalanan untuk menggusur posisi Andrea Pirlo di AC Milan dimulainya dari sini. Staf kepelatihan Maasbracht kagum dengan kinerja Van Bommel. Ia bak lahir dengan keterampilan bermain bola yang naluriah. Dengan mendapat sedikit arahan, Mark sudah bisa bermain dengan baik dengan tim.

Saking berbakatnya, Mark sudah dimainkan bersama anak-anak yang memiliki usia jauh di atasnya. Meski berposisi sebagai gelandang pengatur serangan, Mark dianugerahi naluri mencetak gol dan kecakapan fisik di atas rata-rata. Oleh karena itu, klub papan atas macam Fortuna Sittard akhirnya datang untuk merekrutnya.

Membangun Reputasi

Sebetulnya banyak klub Belanda lain yang datang menggoda Mark Van Bommel kala itu. Namun, dirinya yang masih berusia 15 tahun hanya bisa mendengarkan saran sang ayah. Menurut keluarganya, Fortuna jadi klub yang paling mau mengerti dan mau memperhatikan perkembangan tiap individu. Mark akhirnya mengambil langkah besar untuk menjadikan Fortuna Sittard sebagai klub profesional pertamanya.

Dari sini Mark membangun reputasinya sebagai salah satu gelandang jempolan. Setelah masa kerja yang relatif singkat di tim muda Sittard, van Bommel akhirnya melakukan debut profesionalnya bersama tim senior Fortuna Sittard pada musim 1992/93. Kala itu, Van Bommel memainkan 19 menit yang berharga melawan mantan klub Stefano Lilipaly, SC Cambuur di ajang Eredivisie.

Singkat cerita, pada musim 1999/00, PSV Eindhoven yang sudah lama memantau Mark Van Bommel datang untuk menawarkan kontrak eksklusif. Bersama Johann Vogel, ia membangun mitra yang luar biasa di lini tengah PSV selama kurang lebih enam tahun lamanya. Dalam periode itu, mereka jadi bagian tim yang membangun kembali kejayaan PSV Eindhoven. Belasan trofi pun diraihnya termasuk empat gelar juara Liga Belanda.

Berkat penampilan luar biasa bersama Eindhoven, nama Van Bommel mendunia. Berkat tim ini pula akhirnya Van Bommel berhasil menembus Timnas Senior Belanda. Gaya mainnya yang dinamis dan mampu mendikte permainan lawan melalui distribusi bolanya yang sempurna digemari oleh Louis Van Gaal yang kala itu menukangi The Oranje.

Pertemuan dengan Andrea Pirlo

Nama Mark Van Bommel sudah berada di puncak daftar gelandang terbaik yang dimiliki oleh Belanda. Baik di Timnas maupun PSV, ia selalu jadi andalan. Apalagi setelah ia menjadi kapten tim. Mau siapa pun pelatihnya, Van Bommel tetap jadi jenderal lapangan tengah sekaligus sosok yang paling didengar di ruang ganti.

Kejayaan PSV di Eredivisie membawa Van Bommel cs harus berlaga di ajang Liga Champions. Pada musim 2004/05, kejayaan domestik PSV Eindhoven harus tercoreng oleh wakil Italia, AC Milan. Laju luar biasa PSV hingga semifinal harus terhenti lantaran kalah tipis dari Milan.

Di laga tersebutlah Van Bommel pertama kalinya berjumpa dengan Andrea Pirlo. Mark yang berposisi sebagai gelandang mau tidak mau harus berhadapan dengan Pirlo yang berposisi sama namun sedikit lebih ke dalam. Di leg pertama, Van Bommel kewalahan menghadapi aliran bola dari Pirlo. Meski Ricardo Kaka terlihat lebih menonjol kala itu, beberapa pengamat bola menganggap PSV hancur setelah tak bisa meredam aksi Andrea Pirlo.

Tertinggal 2-0 di leg pertama, PSV bangkit kembali di hadapan fans sendiri yang memadati Phillips Stadium. Meski pada akhirnya menang 3-1, Milan unggul gol tandang. Media-media Belanda menyoroti performa Van Bommel yang dirasa gagal menghadang pergerakan Massimo Ambrosini yang berhasil menjebol gawang PSV.

Transfer Tak Terduga ke Milan

Setelah pertemuan pertama yang menyakitkan, Van Bommel kembali bertemu Andrea Pirlo di ajang yang sama beberapa kali. Dua kali saat sedang membela Barcelona dan dua kali saat membela Bayern Munchen. Bahkan, ketika di Bayern, Van Bommel lagi-lagi menelan kekalahan dari Pirlo.

Setelah menjalani musim yang tak begitu istimewa bersama Barcelona, Mark Van Bommel memang kembali menemukan sentuhan terbaiknya bersama Bayern Munchen pada tahun 2006. Pemain asli Belanda itu bahkan mengemban jabatan kapten di klub tersebut. Mark bermain selama kurang lebih empat tahun. Ia bertahan di Jerman hingga usianya menginjak 33 tahun.

Bersama Bayern, empat gelar bergengsi sudah jelas ia kantongi. Meski bukan pemain Jerman asli, Van Bommel tetap jadi gelandang yang dihormati di Jerman. Sayang, usia yang semakin tua membuatnya terpinggirkan di musim 2010/11. Di saat semua orang menganggap karirnya sudah habis, Mark justru mendapat panggilan telepon dari Massimiliano Allegri yang kala itu menukangi AC Milan.

Pada Januari 2011, Van Bommel yang sudah tua dan baru pulih dari cedera lutut akhirnya dilepas Bayern ke Milan secara cuma-cuma. FC Hollywood enggan mengambil resiko dengan mempertahankan sang pemain lebih lama. Ketika ada yang berminat ya syukur. Oleh karena itu, Van Bommel meminta izin untuk mengakhiri kontraknya lebih awal dari yang seharusnya.

Semua itu dilakukan demi bisa pindah ke Milan. Di mana ia harus mencari jalan lain untuk memperjuangkan karirnya. Terlebih, ia baru saja memiliki anak kala itu. Bayern pun mengizinkan. Mereka merasa itu akan baik bagi karir Van Bommel ketimbang harus bersaing di Allianz Arena.

“Saya meninggalkan Bayern Munchen dengan berat hati namun juga dengan kepala tegak,” kata van Bommel. “Saya menjalani empat setengah tahun yang indah dan sukses di sini dan ingin mengucapkan terima kasih kepada klub dan para penggemarnya. FC Bayern akan selalu mendapat tempat di hati saya.” Pungkas Van Bommel sebelum akhirnya terbang ke Milan.

Pengganti Andrea Pirlo

Di sisi lain, saat Van Bommel diperkenalkan sebagai rekrutan baru AC Milan, banyak yang bertanya-tanya mengapa Allegri mendatangkan pemain yang sudah uzur. Karena jika dilihat dari kondisi fisiknya, Mark sudah tak seprima dulu. Banyaknya cedera termasuk cedera lutut yang ia alami di Bayern telah mempengaruhi performanya.

Namun, Allegri tak sedikit pun berpikir demikian. Pelatih asal Italia itu memandang Mark Van Bommel bak suatu hal yang lain. Meski sudah menginjak usia kepala tiga, Allegri percaya kalau mantan pemain Barcelona itu bisa jadi kartu truf AC Milan yang sedang menargetkan scudetto di musim 2010/11.

Allegri mendatangkan Van Bommel dengan tujuan untuk menggantikan peran Andrea Pirlo. Kala itu, Pirlo sedang berada dalam kondisi fisik yang memprihatinkan. Selama tahun 2010 saja, Pirlo sudah mengalami tiga kali cedera. Peran sang regista di skema permainan Max Allegri begitu sentral. Oleh karena itu, ketika dirinya mengalami ketidakstabilan performa, itu juga mempengaruhi permainan Milan.

Allegri berusaha mencari alternatif lain pada diri Mark Van Bommel. Dengan segudang pengalamannya, Allegri berharap Mark bisa dengan cepat beradaptasi. Terutama agar Milan tak kehilangan momentum di paruh kedua musim 2010/11. Bersama klub yang pernah menghancurkan hatinya itu, Van Bommel berusaha memenuhi ekspektasi Allegri

Diharapkan sebagai pengganti sambil menanti Pirlo pulih dari cedera, Van Bommel justru tampil melebihi apa yang diharapkan. Allegri yang puas pun akhirnya menjadikan Van Bommel andalan di lini tengah bersama Mathieu Flamini, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso dan pemain yang sempat membuatnya dipermalukan media Belanda, Ambrosini.

Van Bommel Menggusur Pirlo

Meski memiliki gaya bermain yang berbeda dengan Pirlo, Allegri senang dengan permainan Van Bommel. Pemain yang kala itu berusia 33 tahun itu menawarkan variasi bermain yang lebih pragmatis. Hal itu memberikan dimensi yang berbeda di lini tengah Milan dan berhasil membantu klub mengalahkan tim-tim kuat termasuk pesaing gelar, Inter Milan.

Laga melawan Inter jadi salah satu laga terbaik bagi Van Bommel. Meski tak berkontribusi apa pun dalam tiga gol Milan kala itu, Van Bommel jadi salah satu pemain yang menunjukan performa apik. Dengan rating 7,22, ia jadi pemain terbaik ketiga dalam pertandingan itu. Hanya kalah dari Thiago Silva yang mendapat rating 7,48 dan Ignazio Abate yang dapat rating 7,39.

Di paruh kedua musim 2010/11 itu, Van Bommel benar-benar menggusur Pirlo dari tahtanya. Pemain asal Belanda itu mengantongi 14 pertandingan di Liga Italia. Berbanding jauh dengan Andrea Pirlo yang hanya mampu mencatatkan tiga penampilan saja. Alih-alih bermain, Pirlo justru disibukan oleh cedera ototnya yang tak kunjung usai.

Hanya kalah sekali di paruh kedua musim tersebut, AC Milan akhirnya menjuarai Liga Italia. Ini jadi gelar pertama Van Bommel sekaligus scudetto ke-18 bagi Milan. Memang, mungkin bukan sepenuhnya berkat Van Bommel. Tapi, jika bukan karena dirinya, Milan bisa saja kehilangan momentum untuk menjaga asa juara. 

Pirlo Dibuang ke Juventus

Situasi ini juga membuat manajemen menaruh kepercayaan lebih kepada Mark Van Bommel. Meski sudah berusia 34 tahun, Van Bommel mendapat perpanjangan kontrak satu tahun dari Milan. Di musim keduanya, ia menambahkan satu gelar Super Coppa Italia untuk Milan. Lantas bagaimana dengan nasib Andrea Pirlo? Pemain yang kini melanjutkan karir sebagai seorang pelatih itu tersingkirkan.

Pada Juli 2011, Milan yang sudah muak dengan kondisi fisik Pirlo yang tak kunjung membaik akhirnya tak memberikan perpanjangan kontrak. Juventus akhirnya menampung Pirlo. Juve berhasil membangkitkan karir sang pemain. Ia jadi salah satu pemain gratisan terbaik yang pernah didatangkan oleh La Vecchia Signora. 

Sumber: These Football Times, Football Oranje, Bavarian Football Work, Ryan Ferguson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *