Welber Jardim Tunjukkan Betapa Timpangnya Kualitas Pemain Lokal

Indonesia boleh bangga bisa bermain di Piala Dunia. Walaupun hanya kelompok umur. Boleh senang karena menahan imbang Panama dan Ekuador. Negara yang kedua merupakan salah satu tim terkuat di Grup A. Tapi kalau boleh jujur, melihat permainan Timnas Indonesia asuhan Bima Sakti sangat membosankan.

Meskipun hal itu bisa dimaklumi. Apa yang diharapkan dari Bima Sakti, sosok pelatih yang dapat membuat orang tertidur layaknya dihipnotis Uya Kuya, lantaran taktiknya yang membosankan untuk ditonton? Seorang pelatih yang bahkan lebih cocok menjadi pendakwah, alih-alih menukangi tim nasional.

Permainan Timnas Indonesia asuhan Bima Sakti hampir seluruhnya tidak bisa dinikmati. Namun, untunglah ada satu-dua pemain yang menghibur. Yang permainannya di atas lapangan menunjukkan bahwa ia sedang bermain di ajang sebesar Piala Dunia, bukan Piala AFF apalagi pertandingan antarkelurahan.

Salah satu pemain yang dimaksud adalah Welber Jardim. Dibawa dari Sao Paulo, Brasil, Welber memperlihatkan kelasnya. Selain itu, permainannya dalam dua laga menghadapi Panama dan Ekuador menunjukkan betapa timpangnya kualitas pemain lokal dengan pemain yang ditempa oleh sistem sepak bola yang baik.

Main Cantik

Hanya ada dua pemain lokal yang punya rating bagus menurut Sofascore dalam dua laga terakhir: Ikram Al-Giffari dan Arkhan Kaka. Ikram menempati posisi kedua. Ia punya rating bagus karena yah, ia adalah penjaga gawang. Timnas Indonesia U-17 sering diserang dan ia berjibaku untuk menyelamatkan gawang sekaligus muka Timnas Indonesia.

Sedangkan Arkhan Kaka adalah pencetak gol. Soal cara mainnya, kita tidak tahu betul apakah Kaka sungguh pemain bagus. Ia menjadi terlihat bagus dan punya visi bermain ya karena mencetak gol. Nah, kalau Welber Jardim berbeda. Tanpa memberikan asis ke Arkhan Kaka di laga melawan Panama pun, sebetulnya kita bisa melihat Welber bermain apik.

Kalau tidak, bagaimana mungkin Bima Sakti terus memainkannya dalam dua laga? Welber Jardim tidak pernah digantikan. Kalau sudah turun, Welber akan bermain full 90 menit. Tak peduli tertatih-tatih atau tidak. Tapi Welber tidak asal turun. Ia pasti memberikan impak untuk Garuda Muda.

Tidak ada pemain Timnas Indonesia yang memiliki sentuhan terbanyak dalam dua laga menghadapi Panama dan Ekuador selain Welber. Sejauh ini menurut Sofascore, Welber melakukan rata-rata 67,5 sentuhan per 90 menit. Sebagai perbandingan, Figo Dennis yang bermain untuk tim muda Persija dan ia adalah seorang gelandang saja hanya memiliki rata-rata sentuhan 39 per laga.

Umpan-Umpan Akurat

Jika kamu menonton Timnas Indonesia U-17, suguhan berupa salah-salah umpan sering terjadi. Dan mohon maaf, kebanyakan dari kesalahan umpan itu datang dari para pemain lokal. Ingat bagaimana Oldemar Castillo Jimenez membobol gawang Ikram dan membuat Indonesia tertinggal dari Panama kemarin?

https://www.youtube.com/watch?v=Xpj-h2FW-Vw

Gol itu berasal dari kesalahan umpan pemain Barito Putera Youth, Iqbal Gwijangge. Meskipun itu tidak sepenuhnya salah Iqbal. Bima Sakti sering memaksakan build-up dari bawah. Dua bek tengah, yang kebetulan adalah pemain lokal: Iqbal dan Sulthan Zaky sering diminta untuk mengirim bola jauh ke depan.

Memang, kedua pemain itu pada akhirnya memiliki akurasi umpan yang baik, yakni 71% untuk Sulthan Zaky dan 78% untuk Iqbal Gwijangge. Tapi keduanya juga sering kehilangan bola,terutama ketika ditekan lawan. Menurut Sofascore, Sulthan Zaky rata-rata kehilangan bola 12,5 per laga, sedangkan Iqbal 8 per laga. Nah, ini berbeda dengan Welber Jardim.

https://www.youtube.com/watch?v=y6oEyL6e8lE

Setiap kali memegang bola, pemain Sao Paulo U-17 itu punya ketenangan yang luar biasa. Selain itu, pergerakan Welber acap kali tidak sia-sia. Terbukti ia menjadi satu-satunya pemain Timnas Indonesia yang menciptakan big chance created. Dan ia pula pemain yang sudah memberikan asis, daripada dua pemain sayap: Riski Afrisal dan Jehan Pahlevi.

Welber Jardim Bersinar Sendiri

Selain Ikram yang bertanggung jawab di bawah mistar dan sering melakukan penyelamatan karena memang Timnas Indonesia U-17 tidak becus menyerang dan Arkhan Kaka si pencetak gol, Welber Jardim bisa dibilang adalah pemain yang bisa menghidupkan permainan pasukan Bima Sakti.

Mobilitasnya luar biasa. Welber yang berposisi bek kanan juga sering bergerak ke tengah. Bahkan pemain yang mengidolakan Marcelo itu beberapa kali maju ke sepertiga pertahanan lawan. Ia juga sering bergerak ke sektor half space. Dari sini kita melihat bahwa pemahaman ruang bermainnya sangat bagus.

Asisnya pada Arkhan Kaka itu, sekali lagi, menjadi bukti betapa efektifnya permainan Welber. Sayangnya, permainan Welber tidak bisa diimbangi oleh rekan-rekannya yang kebanyakan dari mereka bermain di liga yang lungkrah. Sering kali Welber dibiarkan bekerja sendiri. Ia tidak dibantu dalam proses build-up.

Rekan-rekannya kadang tidak ada satu pun yang mendekat ketika Welber menguasai bola. Alhasil, ia pun harus men-delay bola. Tak jarang Welber juga sering kehilangan penguasaan bola. Jika dilihat dari kasat mata, permainannya terlihat kurang. Padahal Welber sendiri bingung harus mengoper ke mana saat pegang bola.

https://www.youtube.com/watch?v=y6oEyL6e8lE

Saat lini belakang menguasai bola, acap kali para pemain lain langsung maju untuk menunggu umpan dari para bek, tak terkecuali gelandang. Barangkali hanya Ji Da Bin yang paham bahwa bek juga butuh dukungan untuk membangun serangan yang tersistem. Tidak dari bek langsung ke sayap.

Karena hanya Ji Da Bin yang sadar, dan ia menjadi pemain yang kerap ditekan, maka para fullback termasuk Welber tak leluasa mengeksplorasi kelebaran. Welber juga pada akhirnya terpaksa melepas umpan langsung ke setengah lapangan bertahan lawan (own half). Akurasi own half-nya untung bagus, yakni 79%.

Ditempa di Tempat yang Tepat

Welber bisa seperti itu karena memang ia ditempa di tempat yang tepat. Walaupun sang ayah, Elisangelo de Jesus Jardim adalah mantan pemain Liga Indonesia, di mana ia bermain di Persiba Balikpapan, tapi Welber tidak dibiarkan bermain di Indonesia.

Setelah menikahi perempuan lokal, Lielyana Halim dan pensiun sebagai pesepakbola, Elisangelo segera memboyong istrinya dan Welber ke Brasil. Ia ingin menempa Welber sebagai pesepakbola di Negeri Samba. Betapa seriusnya sang ayah, sampai Welber pun didorong untuk ikut seleksi tim-tim hebat di Brasil.

Awalnya, di usianya yang 10 tahun, Welber memperkuat Palmeiras. Lalu, masuk ke Santos Junior dan pada akhirnya bermain untuk Sao Paulo U-17. Welber benar-benar dididik di negara yang serius dalam sepak bola, plus di klub yang bukan kaleng-kaleng. Palmeiras, Santos, dan Sao Paulo, siapa yang tidak mengenal tiga klub itu?

Hasilnya, Welber Jardim pun memiliki kualitas yang lebih baik dari para pemain lokal Timnas Indonesia U-17. Bima Sakti pun mengakui kalau Welber punya kemampuan di atas rata-rata. Tentu kita bisa menilai di atas rata-rata versi Bima Sakti itu seperti apa.

Tak Perlu Bermain di Indonesia

Melihat permainan Welber Jardim di Timnas Indonesia U-17 seperti melihat tarian Samba di tengah kerusuhan. Kemampuan umpannya, aksi gocekan-gocekannya, dan keahliannya dalam berduel, Welber terlihat seperti bukan pemain U-17. Tak ayal pujian datang padanya.

Pertunjukkan yang diperlihatkan Welber bahkan membuat klub-klub Liga 1 Indonesia tergiur untuk mendatangkannya. Dikutip laporan Bola.com, Welber ditawar 1-2 miliar untuk bermain di BRI Liga 1. Tawaran yang sangat menggiurkan. Uang segitu mungkin lebih tinggi dari bayaran Welber di tim muda Sao Paulo.

Tapi ayah Welber tegas menolak tawaran itu. Alasannya karena Welber masih terikat kontrak dengan Sao Paulo U-17. Ia masih ingin melihat Welber, yang usianya baru 16 tahun berkembang. Selain itu, Welber juga ingin fokus berkarier di Brasil. Lagi pula kabarnya Sao Paulo tidak keberatan memberi kontrak profesional untuk Welber di tim utama setelah Piala Dunia.

Walau begitu, harus diakui tawaran dari tim-tim BRI Liga 1 betul-betul menggiurkan. Akan tetapi, seandainya Welber beneran main di Liga 1, tidak ada jaminan kalau ia akan digaji. Siapa pula bisa menjamin Welber semakin baik kalau bermain di liga yang meloloskan klub yang bahkan tidak punya stadion?

Sumber: Sofascore, Kumparan, CNNIndonesia, Detik, Okezone, Bolasport

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *